Archive for June, 2009


Meningkatkan Cinta Anak pada Allah

Republika Newsroom (http://www.republika.co.id/berita/49871/Meningkatkan_Cinta_Anak_pada_Allah )
Juni, 9 2009
ALAM: Perkenalkan keagungan alam ciptaan Allah SWT untuk menambah kecintaan anak terhadap Sang Pencipta.
Di tengah kesibukan anak mengikuti berbagai pelajaran tambahan seperti les piano, les tari atau berbagai kegiatan bakat lainnya, apakah anak Anda memiliki waktu untuk lebih mengenal alam? Mengenalkan alam pada anak dapat meningkatkan kesadaran mereka akan kebesaran Allah SWT selain itu juga dapat memperkuat iman.
Kapan terakhir kali Anda mengajak anak pergi ke luar untuk menikmati suasana pegunungan atau pedesaan? Apakah anda pernah membuat ciptaan Allah SWT menjadi tampak lebih menarik bagi anak-anak? Berikut ada sepuluh saran agar anak lebih mencintai alam dan pencipta-Nya.
• Mengunjungi tanah pertanian. Kebanyakan kita tidak terlalu peduli bagaimana padi bisa menjadiberas. Makanan yang terhidang di meja saji lah yang justrumenghampiri kita melewati bermil-mil perjalanan. Anak-anak hanya bisa membayangkan bagaimana jeruk berbuah di pohon atau ayam mengerami telurnya. Sayang sekali anak-anak tidak melihat tanaman tumbuh dan sapi memakan rumput, mereka tidak bisa memahami keajaiban dan keberkahan makanan. Bagaimana anak dapat melihat kebesaran Allah SWT jika mereka belum pernah melihat tanaman tumbuh dan memproduksi makanan?
• Mengunjungi tempat pembuangan sampah. Kita seringkali melemparkan sesuatu ke dalam tong sampah tanpa berpikir kemana sampah-sampah itu dibawa atau apa yang akan terjadiseterusnya. Ajaklah anak mengunjungi tempat akhir pembuangan sampah. Sebutkan juga beberapa tempat akhir pembuangan sampah. Anak-anak Anda mungkin akan terkejut dengan banyaknya sampah yang dihasilkan setiap hari. Dengan begitu anak akan lebih mengahargai alam dengan. Mengingatkan mereka bahwa Allah memberitahu kita untukjangan terlalu banyak memproduksi sampah. Seperti yang di firmankan Allah SWT, “makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. 7:31)
• Bertanam. Buatlah taman di rumah. Ajak anak untuk menanam tumbuhan. Tidak ada cara yang lebih baik untuk bisa berhubungan dengan alam daripada menggali dan menjadi kotor. Mereka akan sangat bangga dengan prestasi yang mereka raih melihat hasil bercocok tanam mereka.
• Membuat kompos. Dengan membuat kompos anak dapat mengetahui siklus kehidupan. Membuat kompos dapat mengajarkan anak mencintai lingkungan.
• Mengamati mahkluk hidup. Berjalan-jalan di alam bersama anak dan melakukan pengamatan secara sederhana. Bagaimana cacing bergerak dan menghitung kelopak bunga. Ungkapkan keindahan dan keajaiban akan ciptaan Allah SWT.
• Mengamati langit. Berjalan-jalan di tengah kota saat malam hari, melihat bintang bersinar. Sebagian besar anak akan terkesima dengan kilauan bintang yang terlihat meski dari jarak yang sangat jauh. Ceritakan pada anak bagaimana penciptaan bintang, seberapa jauh bintang berada dan seberapa luas penciptaan Allah.
• Mengamati cuaca. Pergi ke luar rumah untk merasakan berbagai cuaca. Hujan, panas atau angin yang bertiup kencang. Ajarkan doa-doa yang diucapkansaat cuaca hujan, panas atau berangin. Ceritakan kemuliaan AllahSWT telah menciptakan berbagai fenomena alam.
• Mengamati air. Mengamati sungai atau air terjun. Perhatikan ritme, kesejukan, dan keindahan gerakan air yang menciptakan suasana hati yang sempurna untuk mencerminkan syukur pada ciptaan Allah. Berbicara dengan anak-anak tentang bagaimana Allah mengatur siklus air dari tanah ke langit dan kembali ke bumi untu dimanfaatkan oleh manusia.
• Mengamati daun. Tunjukan pada anak perubahan warna daun saat masih berada di ranting dan saat telah gugur. tantang anak untuk menggambarkan dan mendiskusikan betapa manusia tidak akan mampu membuat sesuatu yang lebih indah dari ciptaan Allah SWT.
• Berkemah. Pengalaman hidup di luar rumah ditemani suara serangga, burung atau binatang lainnya dapat menumbuhkan rasa natural anak. Memasak, mencuci dan tidur di luar akan membawa anak lebih mengenal Allah Tanpa diganggu oleh alat-alat elektronik. Gunakan kreatifitas Anda untuk mengenalkan kekuasaan Allah melalui alam pada anak.

Kewajiban Memuliakan Wanita

Bertakwalah kepada Allah tentang (urusan) wanita, karena sesungguhnya kalian telah mengambil mereka dengan amanah Allah dan kalian menghalalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah. Kalian mempunyai hak yang menjadi kewajiban mereka, yaitu mereka tidak boleh memasukkan ke rumah kalian orang yang tidak kalian sukai. Jika mereka melakukannya maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan. Mereka pun memiliki hak yang menjadi kewajiban kalian, yaitu nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang makruf (HR Malik, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibn Majah, an-Nasai, adDarimi, Ahmad, Ibn Hibban, al-Baihaqi, lbn Khuzaimah, Abad bin Humaid, Ibn Abi Syaibah, dll)

Hadis ini diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain, dan jabir bin Abdullah ra. Sabda Rasul ini merupakan penggalan dari khutbah panjang yang Beliau sampaikan di Arafah pada saat Haji Wada’.Nabi saw. Bersabda, “Fattaqullah fi annisâ’.” Al-Munawi menjelaskan maksudnya adalah, “Bertakwalah dalam hal hak-hak mereka.” Imam an-Nawawi di dalam Syarh Shahik Muslim menyatakan, “Hadis ini merupakan dorongan untuk memperhatikan hak para wanita, menasihati mereka dan memperlakukan mereka secara makruf.”

“Fa innakum akhadztumuhunna bi amaniLlah—di dalam sebagian riwayat engan lafal “bi amanatiLlah—maksudnya adalah “bi ‘ahdiLlah (dengan janji ,Allah),yaitu janji untuk bersikap lembut dan bergaul dengan baik. “Wa istahlaltum furujahunna bi kalimatiLlah,” maksudnya adalah dengan syariah-Nya atau dengan perintah dan hukumNya, yaitu kebolehan dari Allah, dan kalimat firman Allah, “fankihu ma thaba lakum min annisa’ (nikahilah wanita yang kalian sukai)… juga dikatakan maknanya adalah dengan ijab dan qabul, yaitu dengan kalimat yang diperintahkan oleh Allah.

“Wa lakum ‘alayhinna an la yuthi’na furusyakum ahadan takrahunahu.” Menurut penulis Awn al-Ma’bQd maksudnya adalah, “Hendaknya ia tidak memberikan izin kepada siapapun (yang tidak disukai suami) masuk ke rumah suami. Larangan tersebut mencakup laki-laki dan perempuan.”

Imam an-Nawawi menyatakan, “Maknanya adalah hendaknya mereka (para istri) tidak mengizinkan siapapun yang tidak kalian sukai untuk masuk ke rumah kalian dan duduk di dalamnya; baik yang diberi izin itu laki-laki asing, perempuan atau di antara mahram istri. Sebab, larangan tersebut mencakup semua.

Inilah hukum dalam masalah ni menurut para fukaha, yaitu bahwa istri tidak halal mengizinkan laki-laki atau perempuan, mahram-nya ataupunbukan, untuk masuk ke rumah suami; kecuali orang yang dalam anggapan atau dugaan istrinya itu bahwa suami tidak membencinya. Sebab, hukum asalnya adalah haram masuk ke rumah seorang manusia sehingga terdapat izin untuk masuk yang berasal dan dia atau orang yang ia izinkan untuk memberi izin itu, atau diketahui adanya kerelaannya dengan menerapkan ‘urf tentang itu atau semacamnya. Kapan saja terdapat keraguan akan adanya kerelaan dia dan tidak bisa dikuatkan adanya kerelaan itu serta tidak terdapat qarinah maka tidak boleh masuk dan istri tidak boleh memberikan izin.”

“Fa in fa’alna dzalika fadhribihunna dharban ghayr mubarrih” Maknanya, jika mereka mengizinkan orang yang tidak kalian sukai masuk ke rumah kalian maka pukullah mereka dengan pukulan yang ghayr mubarrih. jadi,dalam hal ini suami boleh memukul istrinya dalam bentuk pukulan ghayr mubarrih untuk mendidik istri. Hanya saja, di dalam QS an-Nisa’(4): 34, pukulan itu adalah langkah terakhir: setetah istri dinasihati; jika tidak mempan, lalu pisah ranjang; dan jika tidak mempan juga baru dengan pukulan tersebut. Pukulan ghayr mubarrih adalah pukulan yang tidak keji (ghayr syâ’in), tidak keras, tidak menyebabkan luka dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun. Menurut bn bbas, yang dimaksud bukantah pukulan dengan tongkat atau semisalnya. Al-Hajaj dan Hasan Bashri menjelaskan, “Yaitu pukulan yang tidak membekas (ghayr muatstsir).” Menurut para fukaha pukulan ghayr mubarrih adalah pukulan yang tidak menyebabkan rusaknya organ dan tidak meninggalkan bekas sedikitpun.”

“Wa lahunna ‘alaykum rizquhunna wa kiswatuhunna bi al-ma’ruf”. jika suami memiliki hak yang menjadi kewajiban istri, maka harus diingat bahwa istri juga memiliki hak yang menjadi kewajiban suami; yaitu hak nafkah (pangan, sandang, papan, dsb) secara makruf. Muawiyah bin Haydah al-Qusyairi pernah bertanya, “‘Ya Rasulullah, apa hak isteri kami?”

Beliau menjawab, “Engkau memberinya makan jika engkau makan dan memberinya pakaian jika engkau berpakaian. jangan engkau memukul wajah, jangan mencela (mencaci)nya, dan jangan mendiamkannya kecuali di dalam rumah.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Bi al-ma’ruf, menurut al-Munawi, maksudnya adalah dengan memperhatikan kondisi suami, baik miskin ataupun kaya, atau dengan cara yang makruf (layak) secara proporsional dan terpuji. Jadi, hadis ini memerintahkan para suami untuk memperhatikan hak-hak istri; agar para suami senantiasa bersikap lemah lembut kepada istri, mempergauli dan memperlakukan istri dengan makruf. Hingga ketika menasihati, memberi sanksi dan bahkan jika terpaksa memukul dalam rangka mendidik pun tetap harus dengan cara yang makruf.

Hendaknya kita selalu ingat sabda Nabi saw.:
“Orang yang paling baik di antara kalian adalah yang paling baik kepada istrinya dan aku adalah yang paling baik di antara kalian kepada istriku (HR at-Tirmidzi, Abu Dawud dan ad-Darimi).

Hendaknya setiap kita, apalagi para pengemban dakwah, memperhatikan dan berupaya mewujudkan hal ini.[Yahya bdurrahman]

Catatan Kaki:
Lihat tafsir QS 4: 34 di dalam Tafsir ath-Thabari, TafsIr al Qurthubi, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Alusi, dsb.

(Alwa’ie No. 10:2 Tahun fX, I-2S Februari 2009)

Sumber:http://www.muslimbusana.com/umum/kewajiban-memuliakan-wanita/index.htm

Kala Ali Telat Subuh Berjamaah

Oleh: Mochamad Bugi
28/2/2007 | 09 Shafar 1428 H |
(naskah asli dimabil dari situs ini)


 

dakwatuna.com – Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”

“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.

Blogged with the Flock Browser