Category: Kajian Keislaman


Logika Sederhana:

Jika memahami dan mengamalkan Al Qu’ran (dalam bahasa arab), sebagai firman Allah, itu wajib maka untuk mempelajarinya juga menjadi wajib hukumnya.

Berikut adalah cukilan mengenai landasan wajibnya mempelajari bahasa Arab.

Bahasa Arab merupakan salah satu bahasa tertua yang dikenal oleh manusia dan satu-satunya bahasa yang paling berkembang dan cepat penyebarannya. Sekalipun tata bahasanya demikian lengkap namun sangat mudah dipelajari. Karakter unik yang khusus yang dimilikinya menjadikan Bahasa Arab sebagai bahasa pilihan bagi Kitab Suci yang paling mulia.

Bahasa adalah wasilah untuk berkomunikasi, hanya itu. Demikian pula bahasa Arab, hanyalah sebuah wasilah untuk komunikasi sosial tetapi ada satu keistimewaan tambahan yang tidak dimiliki oleh bahasa lain, yaitu nilai ibadah.

Maka berkomunikasi dengan bahasa Arab ibadah, demikian juga mempelajarinya, mengajarkannya, menelaah kitab-kitab arabiyah adalah ibadah. Sebab bertaammul (berinteraksi) dengan bahasa ini dianggap telah menghidupkan dan menjaga fondasi terpenting Islam yaitu Al-Qur’an.

Mungkin adakah sebuah penjelasan yang lebih terperinci mengapa Allah memilih bahasa Arab untuk Kitab Suci-Nya paling mulia?

Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah ta’ala (Qs.Yunus[10]:2) :

الر تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْمُبِينِ – إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Alif, Laam, Raa. ini adalah ayat-ayat kitab (Al Quran) yang nyata (dari Allah). Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kalian memahaminya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا إِنْ تَِمَسَّكْتُمْ بِهِمَا كِتَابَ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku meninggalkan kepada kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh kepada keduanya maka kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Dua perkara tersebut adalah kitabullah (al-Qur’an) dan sunnahku (al-Hadits).”

Dari sumber diatas, kita sadar bahwa Al Quran dan Sunnah rasul tentu aslinya dan terus demikian ditulis dalam bahasa Arab. Bagaimana kita dapat mengerti, memahami dan mengamalkannya agar kita selamat bukan hanya di dunia tapi bekal akhirat nanti jika tidak mengerti bahasa Arab?.

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rasulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Ramadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Surat Yusuf).

Urgensi bahasa Arab, dan kepentingan teragung dalam dalam kehidupan kita, bahwa ia adalah bahasa Al-Qur’an, bahasa pengantar Islam. Dengannya berkembanglah Islam ke seantero jagat sebagai rahmatan lilalamin.

Dalam sebuah kaidah fiqih dikatakan: “Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Maka tatkala hukum membaca Al-Qur’an wajib, menelaah Al-Hadits hukumnya wajib, mengetahui kaidah-kaidah ibadah dan aqidah hukumnya wajib dan tidak ada cara lain untuk memahami semua ini dengan apik kecuali dengan memahami terlebih dahulu bahasa Arab, akhirnya mempelajari bahasa Arab naik hukumnya menjadi wajib.

Berangkat dari sini, bahasa Arab menjadi bahasa yang paling berkesan dalam dada kaum muslimin dan menghunjam dalam iman serta ruh mereka. Bahasa Arab tidak mungkin dipisahkan dalam tarikh kegemilangan umat Islam yang akan dan terus dikenang dan diusahakan perwujudannya kembali.

Jadi hukum mempelajari bahasa Arab wajib, apakah ada ijtihad dari ulama terpercaya mengenai kesimpulan ini?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha Shirathal Mustaqim berfatwa: “Sesungguhnya bahasa Arab itu sendiri bagian dari agama dan hukum mempelajarinya adalah wajib, karena memahami Al-Kitab dan As-Sunnah itu wajib dan keduanya tidaklah bisa difahami kecuali dengan memahami bahasa Arab. Hal ini sesuai dengan kaidah:Apa yang tidak sempurna suatu kewajiban kecuali dengannya maka ia juga hukumnya wajib.”

Beliau juga berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.”

Jauh sebelum masa Ibnu Taimiyah, Imam Syafi’ipun memiliki istimbath (kesimpulan hukum) demikian.

Semoga cukilan tulisan ini dapat memberikan gambaran dan landasan bagi kita sebagai muslim/muslimah untuk segera mempelajari bahasa Arab, dan berbahagia menjadi bagian kecil penjaga janji Allah seyogyanya A- Quran dan Sunnah akan terjaga hingga hari kiamat nanti.  Bagaimana?

Tulsian ini ditukil dari sumber: http://badaronline.com

Admin MLBSD.

Kekuatan Doa

Ustadz Tashil Amani,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,  warga Muslim Lembata BSD XIV.6 yang senantiasa dimulyakan dan dirahmati oleh Allah SWT.  Saya ingin mencoba mengangkat tema “Kekuatan Doa atau The Power of Praying”, pada pertemuan kali ini.

Jika mengikuti langkah Rasulullah SAW sejak bangun tidur hingga masuk peraduan tidur kembali, tak ada waktu yang luput dan pekerjaan yang tidak pernah terlewat tanpa pernah diawali dengan do’a.  Dilain pihak derajat beliau begitu mulya tanpa cacat, manusia yang sudah mendapat tempat yang mulya di sorga nanti, namun beliau begitu tawadhu dan takutnya kepada Allah SWT, jika dalam setiap langkah tidak diawali dengan bermunajah kepada sang Khaliq, robbul ‘alamin.

Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umatnya, apakah kita sudah melakukannya.  “Jangan pernah sepelekan DOA”.  QS:2 185.

Doa adalah sarana untuk mencapai, mendapatkan, memperoleh sesuatu yang kita inginkan dapat terkabul (cepat atau lambat).  Kepada siapa?, kepada Allah SWT, maka dari itu landasan utama adalah keimanan total kita kepada Allah SWT.   Allah itu lebih dekat (mukmin 60).

Apa itu kekuatan do’a

1. Doa adalah senjatanya orang mukmin.
Orang2 teraniaya lebih makbul doanya.
2. Doa adalah cahaya orang meninggal dunia.
Semua urusan orang mati akan putus, kecuali tiga hal.  Sodakoh, Ilmu yang bermanfaat, dan doa anak2 yang sholeh.  Doa disini dapat mencerminkan bahwa siapa saja dapat mengirimkan doa untuk orang yang sudah meninggal dunia.
3. Doa itu ibadah, ibadah itu doa…coba simak waktu kita melakukan duduk diantara 2 sujud, apa yang kita baca:….seraya menghinakan diri dihadapn-NYA, lirih penuh makna..memohon…meminta semata-mata mengharap ridho yang Maha Gaib dan Maha Suci semata bukan dari gaib-gaib yang lainnya.
4. Tiada amal paling mulya kecuali DOA.
5. Tiada yang dapat merubah Takdir kecuali dengan DOA.

Doa – Ikhlas – Tawakal/Sabar – Ikhtiar – Berhasil.
 
Makna doa untuk kita

Blogged with the Flock Browser

Islam Sebagai Spirit Abadi Kemanusiaan dan Peradaban

Penulis : AHMAD GINANJAR SYA’BAN

Sumber : Media Muslim Net

Fethullah Gülen 

Pada masa lalu, Islam menyelusup ke dalam fikiran manusia sebagai “agama”, dan hal tersebut akan diiringi dengan dugaan-dugaan dalam kesadaran mereka.

Di atas itu semua, Islam telah diwariskan dalam kesadaran jiwa yang mendalam bahwa Islam akan menantang seluruh kerusakan dan kemerosotan. Perdamaian dunia dan ketenangan abadi bagi segenap manusia, sejatinya merupakan tujuan utama Islam untuk mencapai kemuliaan yang sepenuhnya.

Berasal dari ketukan Allah, Islam begitu kuat dalam meyakinkan dan memanggil manusia ke jalan-Nya. Manusia yang merelakan telinganya untuk mendengar tanpa prasangka, akan segera terbungkus dalam aura Sang Mahakasih. Keyakinan itu akan terus berpengaruh pada mereka selamanya–sebab gema suara Islam terus mengabarkan kegembiraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di alam setelahnya, akhirat.

Adalah suara dari luar langit yang menyandi sebagai kunci dalam membentuk kepribadian mulia seorang muslim, dan bentuk komunikasi yang seperti itu tidak akan ditemukan dalam agama apapun selain Islam.

Melalui agama ini, umat manusia menghadirkan kebahagiaan terbesar dan menyebarkan transformasi dalam perubahan-perubahan vital. Itulah Islam yang menunjuk pada jalan yang mengarah pada perdamaian dan keselamatan. Islam secara tegas telah memberikan jawaban kepada umat manusia.

Dan pada hari ini, meski selalu ditelikung oleh serangkaian upaya agresif dan brutal untuk mencela wajah Islam yang bercahaya dan meningkari segala keutamaannya, Islam masih tetap mempertahankan posisinya sebagai sebuah sumber yang unik akan pengharapan, dan melindungi manusia yang berlindung di dalamnya, dengan obat keabadian.

Walaupun ada sebagian orang yang memilih jalan kegelapan dengan melanggar Islam atau menentangnya dengan alasan-alasan palsu yang dibuat-dibuat, Islam selamanya segar sebagai udara yang memenuhi rongga jiwa-jiwa. Ia tetap seperti mercusuar yang memberikan rasa aman bagi jiwa-jiwa yang tengah berlayar di samuderanya.

Sebab hal tersebut, sebagian orang mengatakan bahwa suatu ketika, dunia ini akan memberikan apresiasi dan rasa terima kasih akan berkah kebenaran yang disebarkan Islam. Para penyeru dalam agama ini akan berjalan penuh kesejukan sebagai hembusan angin.

Siapa yang tahu, jika suatu saat Islam akan datang dalam pelukan kita semua, seperti pada hari pertama kita dihidupkan dalam rahim ibu. Dan pada saatnya, Islam akan meniupkan spirit baru ke dalam dunia yang hampir punah ini.  
Semoga para pemeluknya tidak mengecewakan mereka yang menggantungkan harapannya kepada  Islam dengan membuang waktu dan kebimbangan; semoga kepercayaan mereka yang mulai tumbuh tidak goyah karena opini yang berkembang di ranah publik.

Dalam satu nafas, agama ini telah melindungi manusia yang tengah tenggelam dalam ketakpedulian, penolakan, dan penyimpangan. Hal-hal demikian dilambungkan ke arah cakrawala keangkuhan: demikian, maka Islam akan menjadi sumber inspirasi hari ini dalam mencerahkan manusia-manusia tanpa tujuan dan berbicara kepada mereka tentang kehormatan dalam menjadi manusia.

Suatu hari, dengan sentuhan surgawi yang dipelihara dengan baik, agama ini akan mengubah keliaran manusia di masa ini, menjadi nmanusia yang sesungguhnya dan akan menyatakan bahwa dasar ketuhanan merupakan esensi bagi setiap manusia: bahwa Islam bukanlah agama dengan sistem kosong yang tidak terdiri dari apapun, hanya tindakan abstrak, kumpulan prinsp, dan teori.

Islam adalah perpaduan sistem yang secara sempurna sejalan dengan manusia dan cukup kaya untuk memenuhi kebutuhan material dan spiritual manusia. Islam adalah suara yang berasal dari luar jangkauan langit yang menjanjikan sebuah masa depan cerah bagi setiap individu dan masyarakat. Dan saat ini, dengan retorikanya yang khas dan efek yang menawan hati manusia, Islam menawarkan sebuah kunci misterius untuk membuka gerbang-gerbang dunia dan akhirat dengan cara membawa mereka ke dalam kehidupan surgawi.

Meskipun agama kami tidak seluruhnya diekspresikan dengan semestinya oleh para pengikut yang tidak setia dan musuh-musuh yang merusak–yang saat ini keberadaannya tidak diragukan lagi–suara Islam akan tetap menggaung di langit, dengan upaya penuh para penyeru yang telah mengawinkan hatinya dengan fikirannya; sebuah malam perkawinan yang sesungguhnya akan terjadi pada waktunya.

Islam saat ini memang tengah diserang dengan label “keterbelakangan”, dan di waktu yang lain dengan sebutan “fundamentalisme” atau “fundamentalis”, namun para jiwa yang murni akan tetap melihat kebenaran. Semoga suatu saat para pembenci Islam akan menyesali perbuatannya.

Apa yang seharusnya di lakukan oleh kita pada hari ini adalah kembali meletakkan kepercayaan kepada Allah, untuk melangkah dengan di jalan yang kita ketahui sebagai shirath al-mustaqim (jalan yang lurus), untuk merangkul manusia dengan kasih sayang, dan untuk saling bicara, bahkan kepada pembenci Islam dengan alunan cinta kasih akan kemanusiaan.   

Disarikan dan diterjemahkan dari artikel Fethullah Gülen yang berjudul “Towards Spelling Out Our Own Line of Thought” oleh Lulu Mardiah Sunman dan A. Ginanjar Sya’ban (Kairo). Gülen adalah pemikir besar Muslim Turki, kutub spiritual Turki modern, sekaligus mentor sentral Jama’ah an-Nur (pewaris ajaran Syaikh Badi’uzzaman Sa’id Nursi)