Latest Entries »

Kala Ali Telat Subuh Berjamaah

Oleh: Mochamad Bugi
28/2/2007 | 09 Shafar 1428 H |
(naskah asli dimabil dari situs ini)


 

dakwatuna.com – Dini hari itu Ali bin ABi Thalib bergegas bangun untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah di masjid bersama Rasulullah. Rasulullah tentulah sudah berada di sana. Rasanya, hampir tidak pernah Rasulullah keduluan orang lain dalam berbuat kebaikan. Tidak ada yang istimewa karena memang itulah aktivitas yang sempurna untuk memulai hari, dan bertahun-tahun lamanya Ali bin Abi Thalib sudah sangat terbiasa.

Langit masih gelap, cuaca masihlah dingin, dan jalanan masih pula diselimuti kabut pagi yang turun bersama embun. Ali melangkahkan kakinya menuju masjid. Dari kejauhan, lamat-lamat sudah terdengar suara Bilal memanggil-manggil dengan adzannya yang berkumandang merdu ke segenap penjuru Kota Madinah.

Namun belumlah begitu banyak melangkah, di jalan menuju masjid, di hadapannya ada sesosok orang. Ali mengenalinya sebagai seorang kakek tua yang beragama Yahudi. Kakek tua itu melangkahkan kakinya teramat pelan sekali. Itu mungkin karena usianya yang telah lanjut. Tampak sekali ia sangat berhati-hati menyusuri jalan.

Ali sebenarnya sangat tergesa-gesa. Ia tidak ingin tertinggal mengerjakan shalat tahyatul masjid dan qabliyah Subuh sebelum melaksanakan shalat Subuh berjamaah bersama Rasulullah dan para sahabat lainnya.

Ali paham benar bahwa Rasulullah mengajarkan supaya setiap umat muslim menghormati orang tua. Siapapun itu dan apapun agamanya. Maka, Ali pun terpaksa berjalan di belakang kakek itu. Tapi apa daya, si kakek berjalan amat lamban, dan karena itu pulalah langkah Ali jadi melambat. Kakek itu lemah sekali, dan Ali tidak sampai hati untuk mendahuluinya. Ia khawatir kalau-kalau kakek Yahudi itu terjatuh atau kena celaka.

Setelah sekian lamanya berjalan, akhirnya waktu mendekati masjid, langit sudah mulai terang. Kakek itu melanjutkan perjalanannya, melewati masjid.

Ketika memasuki masjid, Ali menyangka shalat Subuh berjamaah sudah usai. Ia bergegas. Ali terkejut sekaligus gembira, Rasulullah dan para sahabat masih rukuk pada rakaat yang kedua. Berarti Ali masih punya kesempatan untuk memperoleh shalat berjamaah. Jika masih bisa menjalankan rukuk bersama, berarti ia masih mendapat satu rakaat shalat berjamaah.

Sesudah Rasulullah mengakhiri shalatnya dengan salam, Umar bin Khattab memberanikan diri untuk bertanya. “Wahai Rasulullah, mengapa hari ini shalat Subuhmu tidak seperti biasanya? Ada apakah gerangan?”

Rasulullah balik bertanya, “Kenapakah, ya Umar? Apa yang berbeda?”

“Kurasa sangat lain, ya Rasulullah. Biasanya engaku rukuk dalam rakaat yang kedua tidak sepanjang pagi ini. Tapi tadi itu engkau rukuk lama sekali. Kenapa?”

Rasulullah menjawab, “Aku juga tidak tahu. Hanya tadi, pada saat aku sedang rukuk dalam rakaat yang kedua, Malaikat Jibril tiba-tiba saja turun lalu menekan punggungku sehingga aku tidak dapat bangun iktidal. Dan itu berlangsung lama, seperti yang kau ketahui juga.”

Umar makin heran. “Mengapa Jibril berbuat seperti itu, ya Rasulullah?”

Nabi berkata, “Aku juga belum tahu. Jibril belum menceritakannya kepadaku.”

Dengan perkenaan Allah, beberapa waktu kemudian Malaikat Jibril pun turun. Ia berkata kepada Nabi saw., “Muhammad, aku tadi diperintahkan oleh Allah untuk menekan punggunmu dalam rakaat yang kedua. Sengaja agar Ali mendapatkan kesempatan shalat berjamaah denganmu, karena Allah sangat suka kepadanya bahwa ia telah menjalani ajaran agamaNya secara bertanggung jawab. Ali menghormati seorang kakek tua Yahudi. Dari pegnhormatannya itu sampai ia terpaksa berjalan pelan sekali karena kakek itupun berjalan pelan pula. Jika punggungmu tidak kutekan tadi, pasti Ali akan terlambat dan tidak akan memperoleh peluang untuk mengerjakan shalat Subuh berjamaah denganmu hari ini.”

Mendengar penjelasan Jibril itu, mengertilah kini Rasulullah. Beliau sangat menyukai perbuatan Ali karena apa yang dilakukannya itu tentunya menunjukkan betapa tinggi penghormatan umat Islam kepada orang lain. Satu hal lagi, Ali tidak pernah ingin bersengaja terlambat atau meninggalkan amalan shalat berjamaah. Rasulullah menjelaskan kabar itu kepada para sahabat.

Blogged with the Flock Browser

Kekuatan Doa

Ustadz Tashil Amani,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh,  warga Muslim Lembata BSD XIV.6 yang senantiasa dimulyakan dan dirahmati oleh Allah SWT.  Saya ingin mencoba mengangkat tema “Kekuatan Doa atau The Power of Praying”, pada pertemuan kali ini.

Jika mengikuti langkah Rasulullah SAW sejak bangun tidur hingga masuk peraduan tidur kembali, tak ada waktu yang luput dan pekerjaan yang tidak pernah terlewat tanpa pernah diawali dengan do’a.  Dilain pihak derajat beliau begitu mulya tanpa cacat, manusia yang sudah mendapat tempat yang mulya di sorga nanti, namun beliau begitu tawadhu dan takutnya kepada Allah SWT, jika dalam setiap langkah tidak diawali dengan bermunajah kepada sang Khaliq, robbul ‘alamin.

Bagaimana dengan kita sendiri sebagai umatnya, apakah kita sudah melakukannya.  “Jangan pernah sepelekan DOA”.  QS:2 185.

Doa adalah sarana untuk mencapai, mendapatkan, memperoleh sesuatu yang kita inginkan dapat terkabul (cepat atau lambat).  Kepada siapa?, kepada Allah SWT, maka dari itu landasan utama adalah keimanan total kita kepada Allah SWT.   Allah itu lebih dekat (mukmin 60).

Apa itu kekuatan do’a

1. Doa adalah senjatanya orang mukmin.
Orang2 teraniaya lebih makbul doanya.
2. Doa adalah cahaya orang meninggal dunia.
Semua urusan orang mati akan putus, kecuali tiga hal.  Sodakoh, Ilmu yang bermanfaat, dan doa anak2 yang sholeh.  Doa disini dapat mencerminkan bahwa siapa saja dapat mengirimkan doa untuk orang yang sudah meninggal dunia.
3. Doa itu ibadah, ibadah itu doa…coba simak waktu kita melakukan duduk diantara 2 sujud, apa yang kita baca:….seraya menghinakan diri dihadapn-NYA, lirih penuh makna..memohon…meminta semata-mata mengharap ridho yang Maha Gaib dan Maha Suci semata bukan dari gaib-gaib yang lainnya.
4. Tiada amal paling mulya kecuali DOA.
5. Tiada yang dapat merubah Takdir kecuali dengan DOA.

Doa – Ikhlas – Tawakal/Sabar – Ikhtiar – Berhasil.
 
Makna doa untuk kita

Blogged with the Flock Browser

1 hari di sisi Allah

Sedikit sharing ya…. terus terang nih saya kurang bisa membaca Al-Qur’an dengan baik makanya saya lebih sering membaca artinya atau terjemahannya.

cobalah buka Al Hajj (QS 22 : 47) : ….., Dan sesungguhnya satu hari di sisi Tuhan mu adalah seperti seribu tahun dari apa yang kamu hitung.

Makna yang saya tangkap 1 hari di sisi Tuhan = 1000 tahun dihitung manusia

1 hari = 1000 tahun

24 jam = 1000 tahun

1 jam = 41 tahun 8 bulan

Pertanyaannya : Apakah kita masih punya waktu 1 jam lagi dihadapan Allah ? atau mungkin ½ jam atau bahkan hanya 10 menit lagi ? Kita tidak tahu !

Apakah ayat ini tidak ada artinya buat kita semua !